Hujan melambatkan produksi batu bata

LAMPUNG - Sentra pembuatan batu bata di Dusun Pagersari, Desa Fajar Agung Barat, Kecamatan Pringsewu, Lampung, berkembang pesat sejak tahun 2.000-an. Saat itu, banyak warga desa yang sebelumnya berprofesi sebagai petani alih profesi menjadi perajin bata. Mereka tertarik terjun ke usaha karena tingginya permintaan bata di Lampung dan sekitarnya. Selain tingginya permintaan, usaha ini juga tidak membutuhkan biaya investasi yang mahal.

 

Bahan baku tanah untuk pembuatan bata juga melimpah. Margono, salah seorang perajin bata mengaku, tidak kesulitan mendapatkan bahan baku pembuatan batu bata. Selama ini, ia mendapatkan pasokan tanah dari Desa Bumisari, Bumiratu, dan Banyumas. Letak ketiga desa itu tak jauh dari Desa Desa Fajar Agung Barat.

 

Margono mengaku, setiap sebulan sekali rutin mengambil tanah dari tiga desa itu. "Sekali ngambil bisa lima dump truck," ujarnya. Menurut Margono, tanah satu dump truk dihargai Rp 250.000. Tanah sebanyak itu bisa diolah menjadi 4.500 bata hingga 5.000 bata.
Ia membeli tanah langsung dari pemilik lahan. Margono menggunakan tiga jenis tanah, mulai tanah kuning, tanah liat, dan tanah hitam. Ketiga jenis tanah itu dicampur menggunakan air lalu diaduk. Setelah itu, adukan dipadatkan menggunakan mesin penggiling. Tanah yang sudah padat lalu dicetak menggunakan cetakan berukuran 6 sentimeter (cm) x 10 cm x 20 cm.

 

Setelah dicetak, batu bata mentah kemudian disusun dan dijemur hingga kering. Bila cuaca sedang panas, penjemuran cukup memakan waktu selama 15 hari. Penjemuran ini bertujuan agar bata kuat dan tidak mudah patah.

 

Setelah pengeringan selama 15 hari, kemudian batu bata dibakar menggunakan merang atau kayu. Jika menggunakan merang membutuhkan waktu selama seminggu. Sedangkan pembakaran dengan kayu hanya memerlukan waktu selama dua hari. Margono sendiri lebih memilih pembakaran dengan menggunakan kayu karena prosesnya lebih cepat. "Jadi dari awal proses pembuatan hingga siap jual itu sebulan jika kondisi panas. Tapi kalau cuaca hujan bisa mencapai dua bulan hingga tiga bulan," jelas Margono. Lamanya proses produksi ini karena semuanya masih dilakukan secara manual. Para perajin belum yang ada menggunakan peralatan canggih dalam proses produksi.


Perajin bata lainnya, Alia bilang, proses pembuatan bata sangat tergantung kepada cuaca. Bila cuaca panas, waktu yang dibutuhkan mulai dari produksi awal hingga batu bata siap jual hanya sekitar satu bulan. Tapi saat musim hujan, proses pembuatan bisa memakan waktu hingga tiga bulan.

 

Selama ini, Alia mendapat bahan baku tanah dari Pajaresuk, Pringsewu. Beda dengan Margono, ia hanya menggunakan dua jenis tanah, yakni tanah merah dan tanah putih. "Kalau tanah merah dari pegunungan dan tanah putih dari sawah," ungkapnya. Untuk proses pembakaran, ia lebih sering memakai merang karena hasil batu batanya jauh lebih bagus.

 

Sumber : kontan.co.id

Copyright @ 2016 PT. BAV, All Rights Reserved