Lesu Kinerja Modal Ventura, Apa Saja Penyebabnya?

Nilai aset industri modal ventura pada kuartal I 2015 mengalami penurunan. Lesu kinerja salah satu industri pembiayaan sektor usaha kecil menengah (UKM) ini seiring dengan pelambatan pertumbuhan ekonomi nasional maupun global. Adakah penyebab lainnya?

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai aset industri modal ventura pada kuartal I 2015 tercatat turun 3,72% menjadi Rp 8,66 triliun, dibandingkan capaian pada akhir 2014 yang tercatat Rp8,99 triliun.

Sementara itu, pembiayaan atau penyertaan modal ke perusahaan pasangan usaha (PPU) tercatat hanya naik tipis 0,65% menjadi Rp6,63 triliun di akhir tahun lalu Rp 6,59 triliun.

 

Perlambatan kinerja industri modal ventura tersebut sejalan dengan perlambatan ekonomi nasional, yang pada kuartal I 2015 tercatat hanya 4,7%. Padahal, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 5,7%.

 

Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan NonBank II OJK Dumoly Pardede menilai perlambatan kinerja industri modal ventura di awal tahun ini merupakan sesuatu yang normal, dan sejalan dengan industri keuangan lainnya.

 

“Hampir semua sektor keuangan di awal tahun demikian dan kemudian membaik di kuartal kedua,” kata Dumoly. Hal ini karena, perlambatan ekonomi nasional dan global yang mempengaruhi kinerja sejumlah Perusahaan Modal Ventura (PMV).

 

Dia mengakui sejauh ini pertumbuhan industri modal ventura nasional kurang menggembirakan karena sejumlah regulasi yang ketat. Faktor penghambat pertumbuhan lainnya adalah tidak ada insentif jika PMV menjadi promotor untuk perusahaan rintisan (start up).

 

Selain itu, banyak perusahaan private equity yang beroperasi secara bebas dan tidak diatur sama sekali. “Juga karena bebasnya berkeliaran private equity company tapi tidak diatur. Hal-hal external itulah yang membuat industri modal ventura tidak berjalan menggembirakan,” kata Dumoly.

 

Untuk itu, OJK akan melengkapi dan mengatur industri modal ventura dengan membuat Peraturan OJK (POJK) baru. Dalam aturan tersebut akan diatur secara lengkap mengenai industri modal ventura.

 

Wacana untuk merevitalisasi industri modal ventura ini disampaikan pada bulan lalu. Ada empat hal yang menjadi perhatian OJK. 

 

Pertama, perluasan sumber pendanaan perusahaan modal ventura (PMV) yang disesuaikan dengan karakteristik bisnis modal ventura.

 

Kedua, perluasan kegiatan usaha. Ketiga, kebijakan proses divestasi bagi industri modal ventura perlu direvitalisasi. Keempat,penguatan permodalan industri modal ventura.

 

Andi Buchari, Direktur Utama PT Bahana Artha Ventura--salah satu anak usaha PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero), mengatakan untuk memajukan industri modal ventura dibutuhkan berbagai terobosan, baik di sisi regulasi maupun institusi.

 

Terobosan tersebut diharapkan bisa mendorong lahirnya wirausaha baru, pemberdayaan UMKM dan pembukaan lapangan kerja, sebagaimana misi pendirian modal ventura oleh pemerintah.

 

“Pembiayaan dari modal ventura juga harus mengarah pada sektor-sektor yang berpotensi mengalami pertumbuhan tinggi agar mampu berperan terhadap perekonomian nasional,” kata Andi dalam siaran pers, Jumat (22/5/2015).

 

Dalam konteks ekonomi global potensi ekonomi bisa didapat secara maksimal jika melibatkan inovasi dari para pengusaha (entrepreneur). Oleh kerena itu, dukungan riil pemerintah, legislatif, dan para stakeholders itu penting agar modal ventura makin berperan dalam perekonomian nasional.

 

Selain itu, pengawasan dan pengendalian terhadap praktek private equity yang selama ini sangat bebas dan terkesan “tidak diatur” perlu dilakukan agar tercipta level playing field yang fair bagi para pelaku di industri venture capital/private equity Indonesia.

"Di luar negeri, peran modal ventura telah sukses melahirkan perusahaan multinasional di Amerika Serikat, seperti Apple Computer, Microsoft, Kentucky Fried Chicken, Sock Shop, Wang Computer, Haagen Daz Ice Cream, IBM, Hawlett Pakard, Google, Ebay, dan IBM."

 

Upaya dari OJK untuk mengembangkan industri modal ventura ini sejalan dengan program pemerintah yang menaruh perhatian besar terhadap dunia entrerpreneur dan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

 

Langkah OJK tersebut sebagai jawaban terhadap tantangan memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang memungkinkan para pemain asing masuk.

 

“Diharapkan pemerintah dan berbagai pihak terkait bekerja sama mengembangkan modal ventura nasional, dipelopori oleh PMV yang terafiliasi dengan pemerintah, sehingga program revitalisasi dapat berhasil sebagaimana diharapkan,” tandas Andi.

 

Sumber : OJK

Copyright @ 2016 PT. BAV, All Rights Reserved