Telkom Memupuk Geliat Start-up

PT.Telekomunikasi Indonesia Tbk mengalokasikan dana US$ 100 juta untuk memupuk pelaku pemula digital

 

JAKARTA - PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menyadari bisnis telekomunikasi masa depan ada di konten dan aplikasi. Sadar akan hal tersebut, Telkom pun memupuk perusahaan pemula alias start-up melalui peran Corporate Venture Capital (CVC).

 

CVC tersebut dikelola oleh anak perusahaan Telkom, yakni Telkom Metra melalui PT MDI. Telkom mengalokasikan dana US$ 100 juta untuk CVC, “Mungkin diasumsikannya sama dengan Rp 1 Triliun,” kata Indra Utoyo, Director of Innovation & Strategic Portfolio PT Telekomunikasi Indonesia Tbk kepada KONTAN, Kamis (23/7).

 

Seluruh dana yang berasal dari kocek internal Telkom itu untuk pengembagnan pemula dari tahun ini hingga empat tahun ke depan. Perusahaan pelat merah tersebut berharap, suntikan dana bisa membikin para pelaku pemula binaan mereka menjadi perusahaan mandiri.

 

Peran CVC adalah membantu para pelaku pemula di tahap inkubasi agar bisa berakselerasi ke tahap yang lebih tinggi. Selanjutnya para pelaku pemula itu diharapkan menginjak tahap monetisasi bisnis.

 

Telkom berencana akan menjaring para pelaku pemula lokal.”Alokasi dana CVC tersebut diperuntukkan bagi start-up lokal dan investasi start-up di silicon valley, ujar Indra.

 

Selain CVC, KESERIUSAN Telkom membangun ekosistem digital skala bisnis pemula juga terlihat dari pembangunan Digital Lounge dan kawasan bisnis pemula Telkom Digital Valley. Dua kawasan bisnis pemula tersebut tersebar di berbagai kota. Dua di antaranya di Bandung dengan nama Bandung Digital Valley (BDV) dan di Yogyakarta dengan nama Jogja Digital Velley (JDV).

 

Digital Lounge berfungsi sebagai creative camp alias tempat para pelaku usaha pemula berbagai informasi untuk mengembangkan aplikasi dan konten. Adapun peran Telkom Digital Valley mirip dengan CVC yakni berfungsi sebagai inkubator.

 

Dalam tahapan inkubasi itu, pelaku usaha pemula yang berada di dalamnya bakal diberi pendanaan yang bernama seed capital. Dana tersebut adalah modal dasar sebelum pada akhirnya mereka bisa membikin usaha yang dibikin menguntungkan.

 

Total dana CSR dan inkubasi untuk pelaku pemula Rp 20 miliar per tahun.

Mulai monetisasi

 

Dana untuk membiayai sepak terjang. Digital Lounge berasal dari dana corporat social responsibility (CSR) Telkom. Sementara dana yang dikucurkan untuk BDV dan JDV berasal dari dana inkubasi bisnis. Total keseluruhan dan CSR dan inkubasi sekitar Rp 20 miliar per tahun.

 

Manajemen Telkom mengklaim, saat ini Digital Lounge memiliki sekitar 1.600 anggota pelaku usaha digital alias digitalpreneur. Sementara alumni BDV dan JDV berjumlah 30 pelaku pemula. Dari 30 alumni itu, Sembilan pelaku pemula masuk ke tahap akselerasi dan mulai memonetisasi bisnis. “Monetisasi sudah mulai tapi skalanya masih kecil, fokusnya lebih pada traffic dan growth,” ujar Indra.

 

Lebih dari itu. Telkom belum membeberkan tentang peluang sinkronisasi dengan para pelaku pemula itu. Yang pasti perusahaan berkode TLKM di Bursa Efek Indonesia tersebut sudah merintis Digital Lounge sejak tahun 2014. Saban tahun, Telkom senantiasa berburu pelaku pemula local yang potensial untuk diajak bergabung dalam inkubasi bisnis.

 

Sebagai informasi, Telkom juga menggandeng Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Inovasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) untuk mengembangkan bisnis pemula. Perusahaan itu juga melibatkan Bandung Techno Park (BTP) di Telkom University. 

 

Sumber: lmfeui

Copyright @ 2016 PT. BAV, All Rights Reserved